Buku 3 in 1 Pertama Di Dunia, "Aku, Bidadari & Sastra"
(Bidadari's Cervical & Breast Cancer Awareness Campaign)
Oleh : ASEN Writters & Publishers
Buku 3 in 1 Pertama Di Dunia yang sangat fenomenal ini, oleh Dr. Ananto Sidohutomo, MARS. diberi judul "Aku, Bidadari & Sastra". Buku ini menjadi ikon pada kampanye Bidadari untuk kewaspadaan terhadap kanker serviks dan kanker payudara. Diterbitkan oleh Bidadari, Pusat Deteksi Dini & Diagnostik Kanker pada tahun 2011 setebal lebih dari 300 halaman.
Ciri khas buku ini, yaitu memiliki dua sisi sampul depan dan belakang bolak-balik, dimana keduanya memiliki judul yang berbeda. Pembaca dapat memilih sendiri membaca buku ini dari sisi sampul yang menghadap pada kita. Penampilan fisik buku ini sangat mewah (lux), dengan hard cover doft dan UVI spot, halaman isi kombinasi antara dominasi book paper dan sisipan matt paper untuk foto, dan kemasan shrink.
Keistimewaan buku ini adalah dalam satu buku terdapat 3 (tiga) karya tulis sastra yang sangat berbeda jenisnya. Terdiri dari "Aku" (autobiografi The Prince of Never Ending War), "Bidadari" (ilmiah populer Perempuan Bisa Mencegah Kanker Serviks), dan "Sastra" (novel Mom ... , Please Don't DIE !). Ketiga judul ini memang sangat berkaitan dengan positioning penulisnya sebagai pujangga sastrawan, relawan, petarung sekaligus pemikir ulung.
Sangat jelas bahwa tujuan penulisan dan pembuatan buku ini adalah merupakan realisasi menggapai mimpi sang penulis, untuk tidak mengijinkan seorangpun perempuan mati karena kanker serviks dan kanker payudara.
Buku Autobiografi dengan judul "The Prince of Never Ending War", dibantu penulisannya oleh Elvianty Natasha, SE. Materi ini benar-benar mengasyikkan untuk disimak, dan mengetahui apa yang dialami dan difikirkan oleh penulisnya tentang kejadian-kejadian yang dirangkai runtun mulai dari masa kecilnya sampai saat ini.
Diawali dengan sebuah sajak, dimana di bait itu jelas tertulis "Aku bukanlah siapa-siapa" yang menunjukkan kerendahan hati penulisnya. Sedangkan di bait lainnya dituliskan "Aku manusia setengah dewa, ragaku berasal dari bumi, roh & jiwaku berasal dari langit", sebagai sebuah makna yang sangat mendalam tentang kondisi kebatinan penulis yang sangat tinggi. Sekilas kita melihat hal itu sebagai sebuah pernyataan yang tidak dapat diterima dengan mudah, tetapi sekaligus akan membuat kita tersenyum setelah menyadari dari penjelasannya bahwa baik penulis maupun kita sebenarnya berada pada posisi dan kedudukan yang sama.
Gaya penulisan aku dikemas dengan tata bahasa yang santun dan sopan, diselingi gaya bercanda di alam pemikiran telah membuat kita bahkan tidak bisa melepaskan buku ini sampai selesai tuntas membacanya. Bahkan setelah selesai membaca, masih juga berkeinginan membalik-balik lagi halaman kisah yang membuat tersenyum dan merenung.
Kelebihan yang menonjol dari autobiografi ini adalah semua kejadian dilihat dengan sudut pandang seseorang yang memiliki "Jiwa Indah" (penulisnya), yang beberapa kali dituangkan dengan kalimat "hanya mampu melihat keindahan semata, bahkan dari luka". Bila seseorang lain menyikapi sebuah kejadian yang menyedihkan dalam kehidupannya dituliskan sebagai sebuah musibah, maka penulis buku ini bahkan menyebutkan musibah tersebut adalah sebagai sebuah anugerah.
Bila mencermati lebih lanjut, tidak ayal lagi siapapun akan sependapat bahwa sang penulis adalah sosok yang penuh idealisme, humanis, petarung penuh semangat dan juga bertaburan prestasi, baik dalam bidang sosial maupun profesionalnya. Pemikirannya bahkan cenderung terkesan sangat out of the box, atau pemikiran yang tidak biasanya akan difikirkan seseorang yang mengalami sebuah peristiwa yang sama.
Sajak yang bertaburan di hampir setiap halaman di buku ini sangat menarik untuk disimak. Prinsip kehidupan yang disajikan sangat kaya dengan makna kiasan" sebagai kolaborasi antara keindahan sastra Jawa, Arab, latin, dan India.
Setelah membaca autobiografi ini, akan jelas terangkai bagaimana beberapa kejadian, pengalaman, pengertian dan kasih sayang telah mengantarkan sosok tokoh ini kemudian diberi gelar sahabatnya dan masyarakat di lingkungannya sebagai "The Prince of Never Ending War".
Buku ilmiah populer berjudul "Perempuan Bisa Mencegah Kanker Serviks" dibantu penulisannya oleh Dr. Etty H.K., Sp.PA. Di tengah maraknya pemberitaan tentang banyaknya kematian dan kesakitan karena kanker serviks di masa kini, buku ini menjanjikan kepada pembacanya untuk mendapatkan sensasi bagai menemukan sebuah oase di padang pasir.
Gaya penulisannya disajikan dengan bahasa awam, sangat mudah dan sistimatis. isi dari karya ini penuh dengan informasi penting tentang bagaimana seorang perempuan dapat melakukan banyak hal untuk menghindarkan dirinya dari penyakit ini, mencegah, mendeteksi dini dan menemukan penyakit dalam tahap awal dimana dapat diupayakan kesembuhan secara maksimal.
Disini juga banyak ditemukan karya original/ asli dari penulisnya sendiri tentang tips-tips yang dapat dilaksanakan oleh seorang perempuan itu sendiri. Seperti tips membersihkan sendiri organ intim (Valeri Ananto), dan cara kencing berdiri bagi perempuan.
"Kartu skor Ananto Sidohutomo" untuk mendeteksi dini resiko kanker serviks pada seorang perempuan sangatlah penting dan dapat sekaligus sebagai bahan edukasi. Juga disajikan informasi tentang penjelasan upaya mencegah bersama dengan tenaga ahli dan apa yang terjadi bila seorang perempuan menderita kanker serviks. Pembahasan di judul ini boleh dibilang sangat lengkap dan memang seperti yang dijanjikan penulisnya, dapat dilakukan sendiri oleh setiap perempuan.
Karya novel berjudul "Mom …, Please Don't DIE !", dibantu penulisannya oleh Elvianty Natasha, SE. Novel disajikan dengan gaya bahasa yang sangat khas, penuh dengan pendalaman menyentuh tentang kisah seorang perempuan bernama Alisha yang menderita kanker Serviks. Juga doa Amanda, anaknya dan sang suami yang selalu membisikkan lirih kalimat "Mom ..., Please Don't DIE !".
Alur cerita disampaikan lembut dan teratur, diwarnai dengan sentuhan emosional serta diselipi dengan gurauan kecil yang menggigit. Seperti cuplikan ini :" Sebelum kesadaranku benar-benar hilang, aku hanya sempat berdoa agar para dokter itu tidak keliru mengambil bagian organ lain dari tubuhku", hal yang sangat menyentuh perasaan dan manusiawi.
Kejutan luar biasa dalam novel ini terjadi ketika penulis dengan berani dan dengan perhitungan yang sangat matang memasukkan dan membuat kisah personifikasi tentang dunia sel serviks. Pada personifikasi inilah sebenarnya penulis mampu menunjukkan kekuatan melakukan sebuah proses edukasi kepada pembacanya, bahkan tanpa disadari. Penulis memberikan pengetahuan apa sebenarnya yang terjadi pada sel serviks yang diberi nama "Chervy" di sepanjang hidupnya. Mulai dari masa kecil Chervy bersama kaumnya dan sahabatnya dari kaum-kaum lain disekitarnya, sampai kejadian yang membuatnya berubah menjadi sel kanker.
Dr. Ananto Sidohutomo, MARS. telah tepat memutuskan untuk menerbitkan buku ini sebagai Buku 3 in 1 Pertama Di Dunia. Pengemasan buku yang memiliki 3 judul yang dikemas dalam 1 buku dengan 2 (dua) sampul depan ini juga merupakan terobosan berarti bagi pengkayaan pilihan menerbitkan buku di masa depan. Hal ini perlu dilakukan untuk memperoleh simbiosis mutualisme dari ke 3 karyanya yang memang dibutuhkan untuk saling melengkapi satu dan lainnya.
Pangsa pasar yang dibidik oleh penulis buku ini nampaknya dari semua kelangan usia maupun gender. Para kolektor buku akan berebut untuk mendapatkan buku fenomenal pertama di dunia ini, sedangkan setiap perempuan diatas usia pubertas pasti wajib memperoleh informasinya. Penulis resensi ini juga telah memesan dan akan membeli banyak buku ini untuk dihadiahkan kepada keluarga dan sanak saudara yang melangsungkan pernikahan, mereka pasti memerlukan untuk bekal mengarungi kehidupannya nanti. Nampaknya semua organisasi dan institusi terutama PKK, Dharma Wanita, dunia pendidikan yang memiliki perpustakaan juga perlu menyediakan beberapa buku ini sebagai koleksi mereka.
Buku ini sudah termasuk dalam kategori Best Seller karena memenuhi beberapa kriteria yaitu isi buku sesuai kebutuhan prioritas calon pembacanya, menampilkan sesuatu yang baru, revolusioner atau spektakuler (bahkan kontroversial), terbit sesuai dengan tren yang sedang hangat dibincangkan, dan sang penulisnya adalah seorang tokoh. Permintaan cetak ulang bahkan telah dilakukan sebanyak 3 kali sebelum buku ini sempat terbit di pasaran.
Diperkirakan harga buku ini dipasaran bisa mencapai nilai 175-200 ribu per bukunya. Namun rencana penulis untuk menentukan harga di kisaran 100 ribu rupiah, menjadikan buku ini memiliki harga jual relatif sangat murah, bila dibandingkan dengan penampilan, kepuasan dan kenikmatan seseorang memiliki buku fenomenal ini.
Melihat distribusi buku ini yang direncanakan akan menyebar merata di seluruh toko buku terkenal di Indonesia, sempat terlintas fikiran bahwa penulis buku telah memutuskan untuk mensubsidi beaya buku ini sehingga akan lebih mudah secara finansial dijangkau oleh masyarakat Indonesia.